Entri Populer

Jumat, 23 November 2012

5 Perbedaan gaya kepemimpinan Jokowi dan Ahok

R.K Community - Duet maut Jokowi-Ahok dinilai pas untuk membenahi Ibu Kota Jakarta. Keduanya dinilai memiliki kecakapan dalam pemimpin Daerah Khusus Istimewa Ibu Kota Jakarta.

Gaya kepemimpinan Jokowi yang flamboyan, namun taktis dipadu dengan sikap keras Ahok diuji untuk memecahkan persoalan Jakarta. Jokowi dan Ahok sendiri memang memiliki pengalaman sebagai kepala daerah.

Meski demikian, Jokowi dan Ahok yang mengalahkan calon incumbent ini ternyata memiliki karakter yang berbeda. Jokowi terkesan lebih kalem, sabar dan rendah hati. Segala persoalan coba diselesaikan dengan bijak. Hal ini berbeda dengan Ahok yang terlihat lebih tegas, bahkan terkadang lebih keras.

Berikut lima perbedaan gaya kepemimpinan Jokowi dengan Ahok:

1. Jokowi kalem, Ahok galak

Jokowi beberapa kali melakukan sidak ke instansi pelayanan di bawahnya. Meski mendapati pelayanan yang kurang buruk, Jokowi hanya menyindir secara halus.

"Jam 8 pelayanan belum buka, Lurah dan wakilnya juga tidak ada. Baguskan?" sindir Jokowi beberapa waktu saat sidak.

Sedangkan Ahok terlihat lebih keras. Beberapa kali mantan Bupati Belitung Timur ini menegur keras bahkan terkesan bernada menantang jika tidak sesuai pendapat dengan bawahannya.

"Kalau bahasa Pak Gubernur, yang bisa ikut naik satu kereta. Halus ya beliau ngomongnya, ya kami tinggal bahasanya. Tapi kalau saya (bahasa) kasarnya. Saya nggak bisa tiru gaya Pak Gubernur, saya orang Sumatera, ya saya begitu cara ngomongnya," kata Ahok saat rapat dengan jajaran Dinas PU DKI Jakarta, Kamis 8 November.

2. Jokowi blusukan, Ahok jaga kandang

Sejak menjabat sebagai Wali Kota Solo, Jokowi memang dikenal dekat dengan rakyat. Jokowi lebih sering melakukan blusukan dibanding duduk di balik meja kerjanya.

Hal yang sama ternyata dia terapkan di Jakarta. Gang-gang sempit, kampung kumuh, bantaran kali dia sambangi. Jokowi tipe pemimpin yang turun langsung menyerap aspirasi rakyat.

Beda dengan Ahok yang selama ini lebih sering jaga kandang alias berada di Balai Kota. Ahok lebih sering mengoreksi kinerja pegawai di lingkungan Balai Kota.

3. Jokowi diburu wartawan, Ahok andalkan youtube

Kemanapun Jokowi pergi wartawan selalu memburunya. Sejak masa kampanye, kemanapun Jokowi pergi selalu dibuntuti wartawan.

Cara kerja Jokowi dengan blusukan ternyata menarik minat pemirsa dan pembaca media. Tak heran Jokowi selalu diburu keberadaannya oleh para pencari berita.

Ahok sendiri lebih mengandalkan media jejaring dan youtube. Beberapa kali rapat yang dia pimpin dengan kepala dinas direkam dan disebarkan ke youtube.

Adegan Ahok memarahi jajaran kepala dinasnya juga dia sebar. Namun sayang, rapat-rapat yang kerap dia lakukan di ruang kerjanya dengan para pengusaha dia tutup rapat-rapat.

4. Jokowi baju putih digulung, Ahok seragam PNS

Gaya berikutnya yang sering berbeda adalah cara berpakaian keduanya. Jokowi lebih sering mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung saat bekerja. Entah berapa baju kemeja putih yang dia punya, tetapi suami Iriana ini sering menggunakan kemeja putih.

Ahok sendiri lebih sering terlihat menggunakan seragam dinas sipil. Keseharian Ahok yang lebih sering menerima tamunya di Balai Kota membuatnya lebih sering menggunakan baju PNS.

5. Jokowi tak terima gaji, Ahok terima gaji

Sejak memimpin Kota Solo Jokowi mengaku tidak pernah menerima gaji. Hal yang sama juga diucapkan saat kampanye di Pilgub DKI Jakarta. Jokowi bertekad akan memberikan pelayanan cuma-cuma alias tanpa gaji. Meskipun hal itu akhirnya dia langgar.

"Gaji ya diambil, tapi digunakan untuk apa, kamu enggak perlu tahu," kata Jokowi di Wisma Catur KONI, Tanah Abang, Jakarta, Jumat (2/11).

Sedang Ahok kembali berbeda dengan Jokowi. Ahok memilih mengambil gajinya sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Sebagai bentuk transparansi publik, Ahok pun membeberkan gaji yang di blognya.

Dalam blog www.Ahok.org, Ahok menulis gaji Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Gubernur Jakarta menerima gaji pokok sebesar Rp 3.000.000 per bulan, sedangkan Wakil Gubernur Jakarta sebesar Rp 2.400.000 per bulan.

Sedangkan untuk perinciannya sebagai berikut:
Gaji pokok gubernur Rp 3.000.000
Tunjangan jabatan gubernur Rp 5.400.000
Biaya rumah tangga/rumah dinas 30.000.000 jadi totalnya Rp 38.000.000

Gaji pokok wakil gubernur Rp 2.400.000
Tunjangan jabatan wakil gubernur Rp 4.300.000
Biaya rumah tangga/rumah dinas Rp 20.000.000 jadi totalnya Rp 26.700.000

Untuk biaya lain-lain (dana operasional) belum diketahui karena menunggu SK gubernur.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar